Tuduhaké menu pokok


Saturnus kuwe sawijiking planet nang tata surya, uga diarani planet sing nganggo cincin. Jarak Saturnus sekang Srengenge kuwe adoh banget, kuwe sebabe Saturnus ketone ora patiya jelas sekang Bumi. Periode evolusi Saturnus 29,46 taun. Saben 378 dina, Bumi, Saturnus lan Srengenge bakal ana ing siji garis lurus. Periode rotasi planet Saturnus yakuwe 10 jam 14 menit.

Saturnus  Simbol astronomis Saturnus
Planet Saturn
Saturnus, seperti dilihat oleh wahana Cassini
Penamaan
Adjektif Saturnian
Epos J2000
Aphelion1.513.325.783 km
10,115 958 04 SA
Perihelion 1.353.572.956 km
9,048 076 35 AU
Sumbu semi-mayor 1.433.449.370 km
9,582 017 20 AU
Eksentrisitas 0,055 723 219
Periode orbit 10.832,327 hari
29,657 296 tahun
Periode sinodis 378,09 hari[3]
Kecepatan orbit rata-rata 9,69 km/s[3]
Anomali rata-rata 320,346 750°
Inklinasi 2,485 240° ke Ekliptika
5,51° ke ekuator Matahari
0,93° ke bidang invariabel[4]
Bujur node menaik 113,642 811°
Argumen perihelion 336,013 862°
Satelit ~ 200 yang teramati (61 dengan orbit yang aman
Ciri-ciri fisik
Jari-jari khatulistiwa 60.268 ± 4 km[5][6]
9,4492 Bumi
Jari-jari kutub 54.364 ± 10 km[5][6]
8,5521 Bumi
Kepepatan 0,097 96 ± 0,000 18
Luas permukaan 4,27Cithakan:E km²[6][7]
83,703 Bumi
Volume 8,2713Cithakan:E km³[3][6]
763,59 Bumi
Massa 5,6846Cithakan:E kg[3]
95,152 Bumi
Kepadatan rata-rata 0,687 g/cm³[3][6]
(kurang dari air)
Gravitasi permukaan di khatulistiwa8,96 m/s²[3][6]
0,914 g
Kecepatan lepas35,5 km/s[3][6]
Hari sideris 0,439 – 0,449 hari[8]
(10 j 32 – 47 men)
Kecepatan rotasi 9,87 km/s[6]
35 500 km/jam
Kemiringan sumbu 26,73°[3]
Asensio rekta bagi kutub utara 2 jam 42 men 21 det
40.589°[5]
Deklinasi 83,537°[5]
Albedo0,342 (terikat)
0,47 (geometrik)[3]
Suhu permukaan
   

level 1 bar
   

0,1 bar
minrata-ratamaks
134 K[3]
84 K[3]
Magnitudo tampak +1,2 sampai -0,24[9]
Ukuran sudut 14,5" — 20,1"[3]
(tidak termasuk cincin)
Atmosfer[3]
Tinggi skala 59,5 km
Komposisi
~96%Hidrogen (H2)
~3%Helium
~0,4%Metana
~0,01%Amonia
~0,01%Hidrogen deuterida (HD)
0,000 7%Etana
Es:
Amonia
air
amonium hidrosulfida(NH4SH)

Saturnus nduwe kerapatan sing rendah jalaran planet kiye zat penyusune akeh sekang gas lan cairan. Inti Saturnus diperkirakna ketata sekang batuan padat, nek atmosfere kesusun sekang gas amonia lan metana, kiye sing nyebabna ora ana keuripan nang Saturnus.

Cincin Saturnus kuwe unik, ana ewonan cincin sing ngelilingi planet kiye. Bahan pembentuke cincin kiye esih durung konangan. Para ilmuwan nduwe pendapat, cincin kuwe ora mungkin ketata sekang lempengan padat sebab bakal hancur nang gaya sentrifugal. tapi, uga ora mungkin ketata sekang zat cair jalaran gaya sentrifugal bakal ngakibatna gelombang. Dadi, diperkirakna sing paling mungkin mbentuk cincin-cincin iku yakuwe bongkahan-bongkahan es meteorit.

Saturnus nduwe 56 satelit alami, antarane yakuwe Mimas, Enceladus, Tethys, Dione, Rhea, Titan (Satelit terbesar dengan ukuran lebih besar dari planet Merkurius) lan Iapetus.

Isi

Bentuk fisikBesut

 
Besar Saturnus dibandingkan dengan Bumi.

Saturnus memiliki bentuk sing diratakan di kutub lan dibengkakkan keluar disekitar khatulistiwa. Diameter khatulistiwa Saturnus sebesar 120.536 km (74.867 mil) dimana diameter dari Kutub Utara ke Kutub Selatan sebesar 108.728 km (67.535 mil), berbeda sebesar 9%. Bentuk sing diratakan iki disebabkan oleh rotasinya sing sangat cepat, merotasi setiap 10 jam 14 menit waktu Bumi. Saturnus adalah satu-satunya Planet di tata surya sing massa jenisnya lebih sedikit daripada air. Walaupun inti Saturnus memiliki massa jenis sing lebih besar daripada air, planet iki memiliki atmosfer sing mengandung gas, sehingga massa jenis relatif planet iki sebesar is 0.69 g/cm³ (lebih sedikit daripada air), sebagai hasilnya, jika Saturnus diletakan diatas kolam sing penuh air, Saturnus akan mengapung.

AtmosferBesut

 
Awan heksagonal kutub utara yang pertama dideteksi oleh Voyager 1 dan akhirnya dipastikan oleh Cassini.

KomposisiBesut

Bagian luar atmosfer Saturnus terbuat dari 96.7% hidrogen lan 3% helium, 0.2% metana lan 0.02% amonia. Pada atmosfer Saturnus juga terdapat sedikit kandungan asetilena, etana lan fosfin.[10]

AwanBesut

Awan Saturnus, seperti halnya Yupiter, merotasi dengan kecepatan sing berbeda-beda bergantung dari posisi lintangnya. Tidak seperti Yupiter, awan Saturnus lebih redup lan awan Saturnus lebih lebar di khatulistiwa. Awan terendah Saturnus dibuat oleh air es lan dengan ketebalan sekitar 10 kilometer. Temperatur Saturnus cukup rendah, dengan suhu 250 K (-10°F, -23°C). Awan diatasnya, memiliki ketebalan 50 kilometer, terbuat dari es amonium hidrogensulfida (simbol kimia: NH4HS) lan diatas awan tersebut terdapat awan es amonia dengan ketebalan 80 kilometer. Bagian teratas dibuat dari gas hidrogen lan helium, dimana tebalnya sekitar 200 lan 270 kilometer. Aurora juga diketahui terbentuk di mesosfer Saturnus.[10] Temperatur di awan bagian atas Saturnus sangat rendah, yaitu sebesar 98 K (-283 °F, -175 °C). Temperatur di awan bagian dalam Saturnus lebih besar daripada sing diluar karena panas sing diproduksi di bagian dalam Saturn.[11] Angin Saturnus merupakan salah satu dari angin terkencang di Tata Surya, mencapai kecepatan 500 m/s (1.800 km/h, 1.118 mph),[12] sing jauh lebih cepat daripada angin sing ada di Bumi.

Pada Atmosfer Saturnus juga terdapat awan berbentuk lonjong sing mirip dengan awan berbentuk lonjong sing lebih jelas sing ada di Yupiter. Titik lonjong iki adalah badai besar, mirip dengan angin taufan sing ada di Bumi. Pada tahun 1990, Teleskop Hubble mendeteksi awan putih didekat khatulistiwa Saturnus. Badai seperti tahun 1990 diketahui dengan nama Bintik Putih Raksasa, badai unik Saturnus sing hanya ada dalam waktu sing pendek lan muncul setiap 30 tahun waktu Bumi.[13] Bintik Putih Raksasa juga ditemukan tahun 1876, 1903, 1933 lan tahun 1960. Jika lingkaran konstan iki berlanjut, diprediksi bahwa pada tahun 2020 bintik putih besar akan terbentuk kembali.[14]

Pesawat angkasa Voyager 1 mendeteksi awan heksagonal didekat kutub utara Saturnus sekitar bujur 78° utara. Cassini-Huygens nantinya mengkonfirmasi hal iki tahun 2006. Tidak seperti kutub utara, kutub selatan tidak menunjukan bentuk awan heksagonal lan sing menarik, Cassiki menemukan badai mirip dengan siklon tropis terkunci di kutub selatan dengan dinding mata sing jelas. Penemuan iki mendapat catatan karena tidak ada planet lain kecuali Bumi di tata surya sing memiliki dinding mata.

Inti PlanetBesut

Inti Planet Saturnus mirip dengan Yupiter. Planet iki memiliki inti planet di pusatnya lan sangat panas, temperaturnya mencapai 15.000 K (26.540 °F, 14.730 °C). Inti Planet Saturnus sangat panas lan inti planet iki meradiasi sekitar 21/2 kali lebih panas daripada jumlah energi sing diterima Saturnus dari Matahari.[11] Inti Planet Saturnus sama besarnya dengan Bumi, namun jumlah massa jenisnya lebih besar. Diatas inti Saturnus terdapat bagian sing lebih tipis sing merupakan hidrogen metalik, sekitar 30.000 km (18.600 mil). Diatas bagian tersebut terdapat daerah liquid hidrogen lan helium.[15] Inti planet Saturnus berat, dengan massa sekitar 9 sampai 22 kali lebih dari massa inti Bumi.[16]

Medan gayaBesut

Saturnus memiliki melan gaya alami sing lebih lemah dari Yupiter. Melan gaya Saturnus unik karena porosnya simetrikal, tidak seperti planet lainnya. Saturnus menghasilkan gelombang radio, namun mereka terlalu lemah untuk dideteksi dari Bumi. Bulan dari Saturnus, Titan mengorbit di bagian luar melan gaya Saturnus lan memberikan keluar plasma terhadap daerah dari partikel dari atmosfer Titan sing sing diionisasi.[17]

Rotasi dan orbitBesut

 
Animasi awan heksagonal Saturnus.

Jarak antara Matahari lan Saturnus lebih dari 1.4 milyar km, sekitar 9 kali jarak antara Bumi lan Matahari. Perlu 29,46 tahun Bumi untuk Saturnus untuk mengorbit Matahari sing diketahui dengan nama periode orbit Saturnus. Saturnus memiliki periode rotasi selama 10 jam 14 menit waktu Bumi. Namun, Saturnus tidak merotasi dalam rata-rata sing konstan. Periode rotasi Saturnus tergantung dengan kecepatan rotasi gelombang radio sing dikeluarkan oleh Saturnus. Pesawat angkasa Cassini-Huygens menemukan bahwa emisi radio melambat lan periode rotasi Saturnus meningkat. Tidak diketahui hal apa sing menyebabkan gelombang radio melambat.

Cincin SaturnusBesut

Saturnus terkenal karena cincin di planetnya, sing dadikannya sebagai salah satu obyek dapat dilihat sing paling menakjubkan dalam sistem tata surya.

SejarahBesut

Cincin itu pertama sekali dilihat oleh Galileo Galilei pada tahun 1610 dengan teleskopnya, tetapi dia tidak dapat memastikannya. Dia kemudian menulis kepada adipati Toscana bahwa "Saturnus tidak sendirian, tetapi terdiri dari tiga yang hampir bersentuhan dan tidak bergerak. Cincin itu tersusun dalam garis sejajar dengan zodiak dan yang ditengah (Saturnus) adalah tiga kali besar yang lurus (penjuru cincin)". Dia juga mengira bahwa Saturnus memiliki "telinga." Pada tahun 1612 sudut cincin menghadap tepat pada bumi lan cincin tersebut akhirnya hilang lan kemudian pada tahun 1613 cincin itu muncul kembali, sing membuat Galileo bingung.

Persoalan cincin itu tidak dapat diselesaikan sehingga 1655 oleh Christian Huygens, sing menggunakan teleskop sing lebih kuat daripada teleskop sing digunakan Galileo.

Pada tahun 1675 Giovanni Domenico Cassini menentukan bahwa cincin Saturnus sebenarnya terdiri dari berbagai cincin sing lebih kecil dengan ruang antara mereka, bagian terbesar dinamakan Divisi Cassiki.

Pada tahun 1859, James Clerk Maxwell menunjukan bahwa cincin tersebut tidak padat, namun terbuat dari partikel-partikel kecil, sing mengorbit Saturnus sendiri-sendiri lan jika tidak, cincin itu akan tidak stabil atau terpisah.[18] James Keeler mempelajari cincin itu menggunakan spektrometer tahun 1895 sing membuktikan bahwa teori Maxwell benar.

Bentuk fisik cincin SaturnusBesut

 
Saturnus yang terlihat dari pesawat angkasa Cassini tahun 2007.

Cincin Saturnus tersebut dapat dilihat dengan menggunakan teleskop modern berkekuatan sederhana atau dengan teropong berkekuatan tinggi. Cincin iki menjulur 6.630 km hingga 120.700 km atas khatulistiwa Saturnus lan terdiri daripada bebatuan silikon dioksida, oksida besi lan partikel es lan batu. Terdapat dua teori mengenai asal cincin Saturnus. Teori pertama diusulkan oleh Édouard Roche pada abad ke-19, adalah cincin tersebut merupakan bekas bulan Saturnus sing orbitnya datang cukup dekat dengan Saturnus sehingga pecah akibat kekuatan pasang surut. Variasi teori iki adalah bulan tersebut pecah akibat hantaman dari komet atau asteroid. Teori kedua adalah cincin tersebut bukanlah dari bulan Saturnus, tetapi ditinggalkan dari nebula asal sing membentuk Saturnus. Teori iki tidak diterima masa kiki disebabkan cincin Saturnus dianggap tidak stabil melewati periode selama jutaan tahun lan dengan itu dianggap baru terbentuk.

Sementara ruang terluas di cincin, seperti Divisi Cassiki lan Divisi Encke, dapat dilihat dari Bumi, Voyagers mendapati cincin tersebut mempunyai struktur seni sing terdiri dari ribuan bagian kecil lan cincin kecil. Struktur iki dipercayai terbentuk akibat tarikan graviti bulan-bulan Saturnus melalui berbagai cara. Sebagian bagian dihasilkan akibat bulan kecil sing lewat seperti Pan lan banyak lagi bagian sing belum ditemukan, sementara sebagian cincin kecil ditahan oleh melan gravitas satelit penggembala kecil seperti Prometheus lan Pandora. Bagian lain terbentuk akibat resonansi antara periode orbit dari partikel di beberapa bagian lan bahwa bulan sing lebih besar sing terletak lebih jauh, pada Mimas terdapat divisi Cassiki melalui cara iki, justru lebih berstruktur dalam cincin sebenarnya terdiri dari gelombang berputar sing dihasilkan oleh gangguan gravitas bulan secara berkala.

Jari-jariBesut

 
Jari-jari di cincin Saturnus, difoto oleh pesawat angkasa Voyager 2.

Voyager menemukan suatu bentuk seperti ikan pari di cincin Saturnus sing disebut jari-jari. Jari-jari tersebut terlihat saat gelap ketika disinari sinar matahari lan terlihat terang ketika ada dalam sisi sing tidak diterangi sinar matahari. Diperkirakan bahwa jari-jari tersebut adalah debu sing sangat kecil sekali sing naik keatas cincin. Debu itu merotasi dalam waktu sing sama dengan magnetosfer planet tersebut lan diperkirakan bahwa debu itu memiliki koneksi dengan elektromagnetisme. Namun, alasan utama mengapa jari-jari itu ada masih tidak diketahui.

Cassiki menemukan jari-jari tersebut 25 tahun kemudian. Jari-jari tersebut muncul dalam fenomena musiman, menghilang selama titik balik matahari.

BulanBesut

 
Titan, salah satu satelit milik Saturnus

Saturnus memiliki 59 bulan, 48 diantaranya memiliki nama. Banyak bulan Saturnus sing sangat kecil, dimana 33 dari 50 bulan memiliki diameter lebih kecil dari 10 kilometer lan 13 bulan lainnya memiliki diameter lebih kecil dari 50 km.[19] 7 bulan lainnya cukup besar untuk, dimana bulan tersebut adalah Titan, Rhea, Iapetus, Dione, Tethys, Enceladus lan Mimas. Titan adalah bulan terbesar, lebih besar dari planet Merkurius lan satu-satunya bulan di atmosfir sing memiliki atmosfir sing tebal. Hyperion lan Phoebe adalah bulan terbesar lainnya, dengan diameter lebih besar dari 200 km.

Di Titan, bulan terbesar Saturnus, bulan Desember tahun 2004 lan bulan Januari tahun 2005 banyak foto Titan diambil oleh Cassini-Huygens. 1 bagian dari satelit iki, yaitu Huygens mendarat di Titan.

EksplorasiBesut

Zaman kuno dan observasiBesut

Saturnus telah diketahui sejak zaman prasejarah.[20] Pada zaman kuno, planet iki adalah planet terjauh dari 5 planet sing diketahui di tata surya (termasuk Bumi) lan merupakan karakter utama dalam berbagai mitologi. Pada mitologi Kekaisaran Romawi, Dewa Saturnus, dimana nama Planet iki diambil dari namanya, adalah dewa pertanian lan panen.[21] Orang Romawi menganggap Saturnus sama dengan Dewa Yunani Kronos.[21] Orang Yunani mengeramatkan planet terluar untuk Kronos,[22] lan orang Romawi mengikutinya.

Pada astrologi Hindu, terdapat 9 planet dimana Tata Surya diketahui dengan nama Navagraha. Saturnus, salah satu dari mereka, diketahui dengan nama "Sani" atau "Shani," hakim dari semua Planet lan menentukan seluruhnya miturut kelakuan baik atau buruk sing mereka lakukan.[21] Kebudayaan Tiongkok lan Jepang kuno menandakan Saturnus sebagai bintang Bumi (土星). Hal iki berdasarkan 5 elemen sing secara tradisional digunakan untuk mengklasifikasikan elemen alami. Orang Ibrani kuno menyebut Saturnus dengan nama "Shabbathai". Malaikatnya adalah Cassiel. Kepintarannya, atau jiwa bermanfaat, adalah Agiel (layga) lan jiwanya (jiwa gelap) adalah Zazel (lzaz). Orang Turki Ottoman lan orang Melayu menamainya "Zuhal", berasal dari bahasa Arab زحل.

Cincin Saturnus membutuhkan paling sedikit teleskop dengan diameter 75 mm untuk menemukannya lan cincin tersebut tidak diketahui sampai ditemukan oleh Galileo Galilei tahun 1610.[23] Galileo sempat bingung dengan cincin Saturnus lan mengira bahwa Saturnus bertelinga. Christian Huygens menggunakan teleskop dengan perbesaran sing lebih besar lan ia menemukan bahwa cincin itu adalah cincin Saturnus. Huygens juga menemukan bulan dari Saturnus, Titan. Tidak lama, Giovanni Domenico Cassini menemukan 4 bulan lainnya, Iapetus, Rhea, Tethys lan Dione. Pada tahun 1675, Cassiki juga menemukan celah sing disebut dengan divisi Cassiki.[24]

Tidak ada penemuan lebih lanjut sampai tahun 1789 ketika William Herschel menemukan 2 bulan lagi, Mimas lan Enceladus. Bulan Hyperion, sing memiliki resonansi orbit dengan Titan, ditemukan tahun 1848 oleh tim dari Britania Raya.

Pada tahun 1899, William Henry Pickering menemukan satelit Phoebe. Selama abad ke-20, penelitian terhadap Titan mengakibatkan alanya konfirmasi pada tahun 1944 bahwa Titan memiliki atmosfer sing tebal, dimana Titan dadi bulan sing unik diantara bulan di Tata Surya lainnya.

Pioneer 11Besut

Saturnus dikunjungi oleh Pioneer 11 pada bulan September tahun 1979. Pioner 11 terbang 20.000 kilometer dari ujung awan Saturnus. Gambar Saturnus lan beberapa bulannya dengan resolusi rendah didapat. Resolusi gambar tersebut tidak bagus untuk melihat fitur permukaan. Pesawat udara juga mempelajari cincin Saturnus, diantara penemuan-penemuan, terdapat penemuan cincin-F lan fakta bahwa celah gelap di cincin terang jika dilihat kearah matahari, dalam kata lain, mereka bukan material kosong. Pioneer 11 juga mengukur temperatur Titan.[25]

VoyagerBesut

Pada bulan November tahun 1980, Voyager 1 mengunjungi sistem Saturnus. Pesawat iki mengirim kembali gambar Planet, cincin lan satelitnya dalam resolusi besar. Fitur permukaan berbagai bulan dilihat pertama kali. Voyager 1 melakukan penerbangan dekat dengan Titan lan meningkatkan pengetahuan manusia atas Titan, selain itu, Voyager 1 juga membuktikan bahwa atmosfir Titan tidak dapat dilalui dalam panjang gelombang sing dapat dilihat, sehingga, tidak ada detail tentang permukaan Titan.[26]

1 tahun kemudian, pada bulan Agustus tahun 1981, Voyager 2 melanjutkan penelitian sistem Saturnus. Lebih banyak foto bulan-bulan Saturnus jarak dekat sing didapat. Namun terjadi ketidakberuntungan, selama penerbangan, kamera satelit tersangkut untuk beberapa hari lan beberapa pengambilan gambar sing direncanakan hilang. Graviti Saturnus digunakan untuk mengarahkan lintasan pesawat angkasa tersebut menuju Uranus.[26]

Satelit tersebut menemukan lan memperjelas beberapa satelit baru sing mengorbit di dekat cincin Saturnus. Mereka juga menemukan celah kecil Maxwell lan Keeler (celah seluas 42 km di cincin Saturnus).

CassiniBesut

 
Gambaran Artis tentang Cassini yang sedang mengorbit Saturnus.
Gambar:Saturnoppositions.png
Posisi-posisi Saturnus: 2001–2029

Pada tanggal 1 Juli 2004, pesawat angkasa Cassini–Huygens melakukan manuver SOI (Saturn Orbit Insertion) lan memasuki orbit sekitar Saturnus. Sebelum SOI, Cassiki telah mempelajari sistem iki. Pada bulan Juni tahun 2004, Cassiki telah melakukan penerbangan dekat ke Phoebe lan memberikan data lan gambar dengan resolusi besar.

Penerbangan Cassini ke bulan terbesar Titan telah menangkap gambar lanau besar lan pantai serta beberapa pulau lan pegunungan. Cassiki menyelesaikan 2 penerbangan Titan seurunge mengeluarkan satelit Huygens pada tanggal 25 Desember 2004. Huygens turun ke permukaan Titan pada tanggal 14 Januari 2005, mengirim data selama turun ke atmosfir lan pendaratan. Selama tahun 2005, Cassiki melakukan beberapa penerbangan ke Titan lan satelit sing mengandung es. Penerbangan Cassiki ke Titan sing terakhir dijadwalkan pada tanggal 19 Juli 2007.

Sejak awal tahun 2005, ilmuan telah meneliti tentang petir di Saturnus, sing ditemukan oleh Cassiki. Kekuatan petir di Saturnus diperkirakan 1000 kali lebih besar daripada petir di Bumi. Para ilmuan percaya bahwa badai iki adalah badai terkuat sing pernah terlihat.[27]

Pada tanggal 10 Maret 2006, NASA melaporkan bahwa, melalui gambar, satelit Cassiki menemukan fakta-fakta tentang cairan air sing meletus di geiser di salah satu bulan Saturnus, Enceladus. Gambar tersebut juga menunjukan partikel air di cairan tersebut dipancarkan oleh pancaran es. Menurut Dr. Andrew Ingersoll dari Institut Teknologi California, "Bulan lainnya di tata surya memiliki samudera cairan air yang ditutup oleh es. Apa yang berbeda disini adalah bahwa cairan air tidak akan lebih dari 10 meter dibawah permukaan."[28]

Pada tanggal 20 September 2006, sebuah foto dari satelit Cassiki menemukan cincin Saturnus sing belum ditemukan, diluar cincin utama Saturnus sing lebih bercahaya lan didalam cincin G lan E. Cincin iki merupakan hasil dari tabrakan meteor dengan 2 bulan Saturnus.[29]

Pada bulan Juli tahun 2006, Cassiki melihat bukti pertama lanau hidrokarbon didekat kutub utara Titan, sing dikonfirmasi pada bulan Januari tahun 2007. Pada bulan Maret tahun 2007, beberapa gambar didekat kutub utara Titan menemukan "lautan" hidrokarbon, sing terbesar dimana besarnya hampir sebesar Laut Kaspia.[30]

Pada tahun 2006, satelit itu telah menemukan lan mengkonfirmasi 4 satelit baru. Misi utama satelit iki akan berakhir tahun 2008 ketika pesawat angkasa akan diperkirakan menyelesaikan 74 misi mengelilingi orbit disekitar planet. Namun satelit itu diperkirakan baru menyelesaikan setidak-tidaknya satu misi.

Penglihatan paling baikBesut

Saturnus adalah planet terjauh dari 5 planet sing paling mudah dilihat dengan mata telanjang lan 4 planet lainnya adalah Merkurius, Venus, Mars lan Yupiter (Uranus lan 4 Vesta terlihat dengan mata telanjang ketika langit gelap) lan planet terakhir sing diketahui oleh astronom awal sampai Uranus ditemukan tahun 1781. Saturnus muncul dalam penglihatan mata telanjang pada saat langit malam sebagai titik terang lan berwarna kuning. Bantuan optik (teleskop) perlu diperbesar setidak-tidaknya 20X untuk melihat cincin Saturnus bagi banyak orang.[31]

Catatan kakiBesut

  1. Yeomans, Donald K. (2006-07-13). "HORIZONS System". NASA JPL. http://ssd.jpl.nasa.gov/?horizons. Diakses pada 8 Agustus 2007.  — At the site, go to the "web interface" then select "Ephemeris Type: ELEMENTS", "Target Body: Saturn Barycenter" and "Center: Sun".
  2. Orbital elements refer to the barycenter of the Saturn system, and are the instantaneous osculating values at the precise J2000 epoch. Barycenter quantities are given because, in contrast to the planetary centre, they do not experience appreciable changes on a day-to-day basis from to the motion of the moons.
  3. 3,00 3,01 3,02 3,03 3,04 3,05 3,06 3,07 3,08 3,09 3,10 3,11 3,12 Williams, Dr. David R. (September 7, 2006). "Saturn Fact Sheet". NASA. http://nssdc.gsfc.nasa.gov/planetary/factsheet/saturnfact.html. Diakses pada 31 Juli 2007. 
  4. "The MeanPlane (Invariable plane) of the Solar System passing through the barycenter". 3 April 2009. http://home.comcast.net/~kpheider/MeanPlane.gif. Diakses pada 10 April 2009.  (produced with Solex 10 written by Aldo Vitagliano; see also Invariable plane)
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 Seidelmann, P. Kenneth (2007). "Report of the IAU/IAGWorking Group on cartographic coordinates and rotational elements: 2006". Celestial Mech. Dyn. Astr. 90: 155–180. doi:10.1007/s10569-007-9072-y. http://adsabs.harvard.edu/doi/10.1007/s10569-007-9072-y. 
  6. 6,0 6,1 6,2 6,3 6,4 6,5 6,6 6,7 Refers to the level of 1 bar atmospheric pressure
  7. NASA: Solar System Exploration: Planets: Saturn: Facts & Figures
  8. Than, Ker (September 6, 2007). "Length of Saturn's Day Revised". Space.com. http://www.space.com/scienceastronomy/070906_saturn_day.html. Diakses pada 6 September 2007. 
  9. Schmude, Richard W Junior (2001). "Wideband photoelectric magnitude measurements of Saturn in 2000". Georgia Journal of Science. http://findarticles.com/p/articles/mi_qa4015/is_200101/ai_n8933308. Diakses pada 14 Oktober 2007. 
  10. 10,0 10,1 Saturn. MIRA. Retrieved on July 29, 2007
  11. 11,0 11,1 Spinrad, Hyron. (2004). Saturn. National Aeronautics and Space Administration. Retrieved on July 29, 2007
  12. Hamilton, Calvin J. (1997). Voyager Saturn Science Summary. Retrieved on July 5, 2007.
  13. S. Pérez-Hoyos, A. Sánchez-Lavega, R.G. Frenchb, J.F. Rojas. (2005). Saturn’s cloud structure and temporal evolution from ten years of Hubble Space Telescope images (1994–2003). Retrieved on July 24, 2007
  14. Patrick Moore, ed., 1993 Yearbook of Astronomy, (London: W.W. Norton & Company, 1992), Mark Kidger, "The 1990 Great White Spot of Saturn", pp. 176-215.
  15. Saturn. National Maritime Museum. (2007). Retrieved on July 29, 2007.
  16. Fortney, Jonathan J. (2004). "Looking into the Giant Planets". Science 305 (5689): 1414-1415. Retrieved on April 30, 2007.
  17. Russell, C. T.; Luhmann, J. G. (1997). Saturn: Magnetic Field and Magnetosphere. UCLA - IGPP Space Physics Center. Retrieved on July 29, 2007.
  18. James Clerk Maxwell on the nature of Saturn's rings. Retrieved on July 6, 2007.
  19. Saturn Satellite and Moon Data. Institute for Astronomy. Retrieved on May 23, 2007.
  20. "Saturn > Observing Saturn". National Maritime Museum. http://www.nmm.ac.uk/server/show/conWebDoc.13852/viewPage/5. Diakses pada 6 Juli 2007. 
  21. 21,0 21,1 21,2 "Starry Night Times". Imaginova Corp.. 5 November 2006. http://www.starrynight.com/sntimes/2006/2006-01-full.html. Diakses pada 5 Juli 2007. 
  22. James Evans (1998). The History and Practice of Ancient Astronomy. Oxford University Press. hlm. 296-7. 
  23. Chan, Gary (2000). "Saturn: History Timeline". http://library.thinkquest.org/C005921/Saturn/satuHist.htm. Diakses pada 16 Juli 2007. 
  24. Catherine. "Saturn: History of Discoveries". http://huygensgcms.gsfc.nasa.gov/Shistory.htm. Diakses pada 15 Juli 2007. 
  25. "The Pioneer 10 & 11 Spacecraft". Mission Descriptions. http://web.archive.org/web/20060130100401/http://spaceprojects.arc.nasa.gov/Space_Projects/pioneer/PN10&11.html. Diakses pada 5 Juli 2007. 
  26. 26,0 26,1 "Missions to Saturn". The Planetary Society. 5 November 2007. http://www.planetary.org/explore/topics/saturn/missions.html. Diakses pada 24 Juli 2007. 
  27. "Astronomers Find Giant Lightning Storm At Saturn". ScienceDaily LLC. 5 November 2007. http://www.sciencedaily.com/releases/2006/02/060215090726.htm. Diakses pada 27 Juli 2007. 
  28. Pence, Michael (March 9, 2006). "NASA's Cassini Discovers Potential Liquid Water on Enceladus". NASA Jet Propulsion Laboratory. http://saturn.jpl.nasa.gov/news/press-release-details.cfm?newsID=639. Diakses pada 8 Juli 2007. 
  29. Shiga, David (September 20, 2007). "Faint new ring discovered around Saturn". NewScientist.com. http://space.newscientist.com/channel/solar-system/cassini-huygens/dn10124-faint-new-ring-discovered-around-saturn.html. Diakses pada 8 Juli 2007. 
  30. Rincon, Paul (March 14, 2007). "Probe reveals seas on Saturn moon". BBC. http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/6449081.stm. Diakses pada 12 Juli 2007. 
  31. "Saturn". National Maritime Museum. http://www.nmm.ac.uk/server/show/conWebDoc.286. Diakses pada 6 Juli 2007. 

Daftar pustakaBesut

  • Karttunen, H.; Kröger, P.; et al. (2007). Fundamental Astronomy. New York: Springer, 5th edition. ISBN 3-540-34143-9. 
  • Lovett, L.; Horvath, J.; Cuzzi, J. (2006). Saturn: A New View. New York: Harry N. Abrams, Inc.. ISBN 0-8109-3090-0. 
  • Surya, Yohanes. Fisika itu Mudah. Jakarta: Grafindo, Erlangga. 

Pranala luarBesut